Sejarah Desa Mentaraman
Menelusuri jejak panjang peradaban Mataraman di selatan Kabupaten Malang
Jejak Sejarah Desa
Dari babat alas Mataraman hingga desa modern yang mandiri dan berbudaya.
Asal Usul Orang Mataram
Sejarah Desa Mentaraman tidak terlepas dari sejarah orang Mataram Jogjakarta pada abad ke-17. Desa ini awalnya adalah sebuah hutan belantara yang belum terjamah oleh peradaban. Para pelarian dan pengikut Kerajaan Mataram Islam memulai perjalanan menuju perbukitan selatan Malang untuk membuka lahan baru dan memulai kehidupan yang berdaulat.
Babat Alas oleh Bapak Soekaryo
Dengan dipimpin oleh seorang yang bernama Bapak Soekaryo dari Mataram, hutan belantara tersebut dibabat menjadi sebuah perkampungan. Pada tahun 1800, berdirilah sebuah pedukuhan yang dinamakan Dukuh Mentaraman — diambil dari kata "Mataraman" sebagai penanda asal-usul mereka. Karena beliau memimpin langsung dalam pembukaan lahan dan pembabatan hutan, maka Bapak Soekaryo diangkat sebagai sesepuh kuasa/kamituwo.
Asal Mula Tradisi Larung Sesaji
Beberapa tahun setelah berdiri, pedukuhan Mentaraman diserang pageblug (wabah penyakit) yang tak diketahui sebab musababnya — pagi sakit sore meninggal, sore sakit pagi meninggal. Sebagai pimpinan pedukuhan, Bapak Soekaryo berdoa mohon petunjuk (semedi) di Pantai Jonggring Saloko. Di sanalah beliau mendapat petunjuk bahwa setiap pertengahan bulan Suro, masyarakat Dukuh Mentaraman diminta mempersembahkan sebagian hasil buminya (pertanian) untuk Larung Sesaji di Pantai Jonggring Saloko. Setelah dilaksanakannya persembahan dalam bentuk Larung Sesaji dari hasil pertanian serta memohon pada Sang Pencipta, maka sirnalah pagebluk dari tlatah pedukuhan Mentaraman. Demikian merupakan salah satu sejarah perjuangan Bapak Soekaryo untuk membentuk sebuah pedukuhan Mentaraman yang aman dan damai.
Suksesi Kepemimpinan Pedukuhan
Setelah Bapak Soekaryo meninggal dunia, pimpinan digantikan oleh Bapak Kasan Munodo pada masa penjajahan Belanda. Selanjutnya berturut-turut dipimpin oleh Bapak Bini, kemudian Bapak Kaseni, dan diteruskan oleh Bapak Noto Djemangin pada tahun 1970-an. Pada tahun 1992, Bapak Noto Djemangin lengser dan kamituwo Mentaraman digantikan oleh Bapak Kasianto.
Pemekaran Menjadi Desa Sendiri
Pada tahun yang sama (1992), Dukuh Mentaraman yang dulunya berada di bawah Pemerintahan Desa Donomulyo, diadakan pemecahan/pemekaran Desa menjadi Desa sendiri yaitu Desa Persiapan Mentaraman, diresmikan oleh Bupati Malang H. Muhammad Said. Bapak Sugijono (seorang pegawai kecamatan) diangkat sebagai Pjs Kepala Desa Mentaraman selama 6 tahun (1992–1998). Setelah beliau lengser, pemerintahan dilanjutkan oleh Bapak Kasianto (yang sebelumnya menjabat kamituwo) sebagai Pjs Kepala Desa selama 4 tahun (1998–2002).
Desa Definitif & Pilkades Pertama
Desa Mentaraman resmi menjadi Desa Definitif. Pemilihan Kepala Desa pertama diikuti 2 calon: Bapak Mesiyanto dan Bapak Tumitah. Terpilihlah Bapak Tumitah, dilantik oleh Bupati Malang H. Rendra Krisna untuk periode 2002–2012. Namun pada tanggal 27 Juni 2010, beliau meninggal dunia. Pemerintahan dilanjutkan oleh Bapak Muhamad Juki yang saat itu menjabat sebagai Carik (Sekretaris Desa), dilantik pada 24 September 2010 sebagai Pjs Kepala Desa sampai 20 April 2011.
Pilkades ke-2: Bapak Suparman
Pemilihan Kepala Desa ke-2 diikuti 2 calon: Bapak Suparman dan Bapak Muclis Saifullah. Terpilihlah Bapak Suparman, dilantik oleh Bupati Malang H. Rendra Krisna pada 20 April 2011 untuk menjabat selama 6 tahun, periode 2011–2017.
Pilkades ke-3: Bapak Suparman (Kedua Kali)
Pada tanggal 30 April 2017, pemilihan Kepala Desa ke-3 diikuti 3 calon: Bapak Suparman (mantan Kades sebelumnya), Bapak Muhamad Juki (mantan Sekdes), dan Bapak Riski Wibowo. Terpilihlah kembali Bapak Suparman, dilantik oleh Bupati Malang pada 13 Juni 2017 untuk periode 2017–2023.
Pilkades ke-4: Bapak Wasito Hadi
Pada tanggal 14 Mei 2023, pemilihan Kepala Desa ke-4 diikuti 3 calon: Bapak Muhamad Juki, Bapak Wasito Hadi, dan Bapak Didik Suryanto. Terpilihlah Bapak Wasito Hadi, dilantik oleh Bupati Malang H. Sanusi pada 13 Juni 2023 untuk menjabat selama 6 tahun, periode 2023–2029. Dengan populasi 5.703 jiwa dan luas wilayah 15.153 Ha, Desa Mentaraman kini memiliki 11 pantai potensial ekowisata bahari.
Warisan Budaya & Kehidupan Sosial
Berkaitan dengan letaknya yang berada di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, suasana budaya masyarakat Jawa sangat terasa di Desa Mentaraman.
Tradisi Keagamaan & Budaya Jawa
Kegiatan agama Islam sangat dipengaruhi aspek budaya dan sosial Jawa — masih digunakannya kalender Jawa/Islam, budaya nyadran, selamatan, tahlilan, dan mitoni sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat.
Demokrasi Lokal
Pola kepemimpinan desa mengedepankan prinsip demokratis. Mekanisme pengambilan keputusan selalu melibatkan masyarakat lewat lembaga resmi desa seperti Badan Perwakilan Desa maupun musyawarah langsung. Pilihan kepala desa bagi warga Mentaraman layaknya sebuah acara perayaan desa.
Kehidupan Harmonis
Dalam catatan sejarah, belum pernah terjadi bencana sosial yang berarti di Desa Mentaraman. Setelah setiap proses politik selesai, kehidupan warga kembali normal dengan penuh tolong-menolong dan gotong royong — masyarakat tidak terjebak dalam sekat-sekat kelompok pilihan.
Desa Mentaraman tetap menjaga identitas budaya Mataraman sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. Tradisi Larung Sesaji setiap bulan Suro, ritual nyadran, kesenian karawitan, dan upacara adat lokal mencerminkan harmoni antara manusia dan alam yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.